Tinjauan Umum
Infark miokard (myocardial infarction/MI) adalah kematian sel otot jantung (nekrosis ireversibel) yang disebabkan oleh iskemia miokard yang berkepanjangan atau berat, sebagaimana dinyatakan dalam bagian Pendahuluan.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama mortalitas di negara-negara Barat, dengan penyakit koroner akut sebagai penyebab utama. Pembahasan rinci mengenai prevalensi infark miokard akut terdapat pada bagian Epidemiologi.
Bagian Patofisiologi menyatakan bahwa infark miokard akut dimulai dengan ruptur plak aterosklerotik koroner yang kaya lemak, yang menyebabkan aktivasi dan agregasi trombosit di area cedera. Pembentukan trombus, iskemia, dan nekrosis miokard pada infark miokard akut dibahas dalam bagian ini.
Etilogi infark miokard, seperti spasme arteri koroner, aterosklerosis koroner, dan ruptur plak diuraikan dalam bagian Etiologi.
Bagian Faktor Risiko mencantumkan faktor risiko umum, faktor risiko yang dapat diubah, dan gaya hidup untuk infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI).
Myocardial Infarction w ST-Segment Elevation_Disease SummaryAnamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Bagian Gambaran Klinis menggambarkan rasa tidak nyaman pada dada yang khas serta gejala penyerta lainnya dalam evaluasi infark miokard.
Penggalian riwayat medis, sosial, dan keluarga pasien sangat penting dalam menilai faktor risiko kardiovaskular, sebagaimana dinyatakan dalam bagian Anamnesis. Bagian Pemeriksaan Fisik merinci temuan-temuan yang diharapkan pada pasien dengan infark miokard.
Diagnosis
Bagian Diagnosis atau Kriteria Diagnosis memuat penilaian awal pada pasien yang datang dengan nyeri atau ketidaknyamanan dada serta pembahasan mengenai sindrom koroner akut dengan atau tanpa elevasi segmen ST persisten.
Bagian Skrining membahas lebih lanjut mengenai penilaian risiko pasien ke dalam kategori risiko rendah, sedang, dan tinggi.
Pembahasan mengenai elektrokardiogram dan uji konfirmatori terdapat pada bagian Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang. Bagian Pencitraan menjelaskan modalitas pencitraan yang membantu dalam evaluasi pasien dengan infark miokard.
Penyakit lain yang dapat bermanifestasi dengan gejala serupa infark miokard dengan elevasi segmen ST dan harus disingkirkan tercantum pada bagian Diagnosis Banding.
Penatalaksanaan
Semua pasien dengan gejala iskemik ≤12 jam dan elevasi segmen ST persisten atau LBBB (left bundle branch block) baru atau diduga baru harus menjalani terapi reperfusi dini secara mekanik (percutaneous coronary intervention/PCI) atau farmakologis (fibrinolitik) kecuali terdapat kontraindikasi sebagaimana dinyatakan dalam bagian Evaluasi. Indikasi dan kontraindikasi untuk intervensi koroner perkutan (PCI) dan terapi fibrinolitik intravena dalam penatalaksanaan infark miokard dengan elevasi segmen ST dibahas dalam bagian ini.
Bagian Terapi Farmakologis membahas secara rinci terapi simtomatik, antiplatelet, trombolitik, penunjang, dan statin, termasuk antikoagulan, penghambat angiotensin-converting-enzyme (ACE), antagonis angiotensin II, beta-blockers, antagonis aldosteron, nitrat, antagonis kalsium, obat penurun lipid, pengontrolan tekanan darah, serta pengontrolan glukosa, tergantung apakah penatalaksanaannya ditujukan untuk perawatan akut, perawatan rawat inap, atau pencegahan sekunder infark miokard.
Bagian Terapi Nonfarmakologis membahas pengelolaan faktor risiko seperti modifikasi diet, peningkatan aktivitas fisik, manajemen berat badan, penghentian merokok, dan konsumsi alkohol secara moderat. Edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit kardiovaskular serta upaya mengurangi risiko kejadian kardiak selanjutnya dan rehabilitasi jantung juga dibahas dalam bagian ini.
Angiografi koroner, intervensi koroner perkutan (PCI), dan coronary artery bypass graft (CABG) dalam tata laksana infark miokard terdapat pada bagian Pembedahan.
