Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
Pemeriksaan berikut dapat dilakukan sebagai penunjang dalam mendiagnosis pneumonia:
- Pulse oximetry: Hipoksemia dapat terjadi pada pasien yang tidak memiliki tanda pneumonia yang jelas
- Analisis gas darah arteri: Harus dilakukan jika saturasi O2 arteri (SaO2) <92%
- Hitung darah lengkap: Leukosit >10 x 10⁹/L atau <4,5 x 10⁹/L (>15 x 10⁹/L) sangat mengindikasikan etiologi bakteri dan leukosit >20 x 10⁹/L atau <4 x 10⁹/L berkaitan dengan peningkatan mortalitas
- Kimia darah: Urea, elektrolit, dan tes fungsi hati harus dimintakan untuk menentukan derajat keparahan penyakit dan mengidentifikasi penyakit hati atau ginjal yang menyertai
-
Kadar C-reactive protein (CRP) dasar dan prokalsitonin dapat diperoleh untuk diagnosis dan penilaian respons terhadap terapi
-
Prokalsitonin dapat digunakan untuk memandu inisiasi dan durasi terapi antibiotik
- Pasien nonkritis dengan kadar prokalsitonin <0,25 μg/L mengisyaratkan infeksi bakteri dan mungkin tidak mendapatkan manfaat dari terapi antibiotik
- Pemeriksaan ulang setelah 6–24 jam dapat digunakan untuk deeskalasi atau penghentian terapi antibiotik empiris
- Kadar CRP yang tinggi atau kadar yang tidak membaik secara bermakna dengan pengobatan berkaitan dengan kegagalan terapi
-
Prokalsitonin dapat digunakan untuk memandu inisiasi dan durasi terapi antibiotik
- Ultrasonografi paru juga dapat digunakan untuk mendiagnosis pneumonia pada pasien yang memburuk dengan cepat, ketika diagnosis alternatif yang mungkin seperti gagal jantung sedang dipertimbangkan
Pemeriksaan Etiologi Mikrob
Alasan penentuan organisme penyebab pada beberapa pasien dengan pneumonia komunitas adalah bahwa hasil pemeriksaan diagnostik diharapkan menghasilkan perubahan pada regimen antibiotik pasien, terutama jika patogen yang tidak lazim dicurigai. Hal ini juga penting pada kasus yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat seperti ketika virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau SARS coronavirus 2 (SARS-CoV-2/COVID-19) dicurigai. Hal ini juga memungkinkan deeskalasi antibiotik dan membantu mempersempit regimen pengobatan untuk mencegah munculnya resistensi. Pemeriksaan untuk menentukan etiologi mikrob direkomendasikan untuk pneumonia komunitas risiko sedang hingga tinggi dan bersifat opsional pada pasien dengan pneumonia komunitas risiko rendah.
Kultur Darah
Kultur darah dianggap sebagai standar emas dalam diagnosis etiologi pneumonia. Meskipun memiliki sensitivitas rendah, kultur darah positif (setidaknya 2 set kultur darah prapengobatan) bersifat spesifik. Kultur darah prapengobatan direkomendasikan untuk pasien dengan pneumonia komunitas berat, yang saat ini mendapat agen empiris untuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) atau Pseudomonas aeruginosa, pernah terinfeksi MRSA atau P. aeruginosa terutama dengan riwayat infeksi paru sebelumnya, atau dengan riwayat perawatan di rumah sakit yang mendapat antibiotik parenteral selama perawatan inap atau dalam 90 hari terakhir. Pneumonia komunitas berisiko tinggi merupakan indikasi terkuat untuk kultur darah karena hasil yang lebih tinggi, kemungkinan lebih besar adanya patogen yang tidak tercakup oleh terapi antibiotik empiris biasa, dan potensi yang lebih besar untuk memengaruhi terapi antibiotik.
Pewarnaan Gram dan Kultur Sputum atau Aspirat Trakea
Pewarnaan Gram prapengobatan dan kultur dari aspirat saluran napas bawah direkomendasikan untuk semua pasien dengan pneumonia komunitas berat, terutama bila diintubasi, pasien dengan pneumonia komunitas derajat sedang yang saat ini sedang diobati untuk MRSA atau Pseudomonas aeruginosa, dengan riwayat infeksi MRSA atau P. aeruginosa terutama dengan riwayat infeksi paru sebelumnya, atau mereka dengan riwayat perawatan di rumah sakit yang mendapat antibiotik parenteral selama perawatan inap atau dalam 90 hari terakhir. Pada pasien yang diintubasi, sampel aspirat endotrakeal atau bronchoalveolar lavage dari bronkoskopi harus diambil. Pewarnaan Gram cepat dan murah, dapat menilai kualitas sampel, membantu menafsirkan hasil kultur, dan dapat memberikan indikasi dini kemungkinan etiologi. Kultur untuk Legionella sp pada media khusus harus dimintakan di daerah endemis Legionella sp dan pada pasien dengan riwayat perjalanan baru-baru ini.
Serologi
Uji antigen urin atau uji amplifikasi asam nukleat untuk Legionella sp hanya boleh dilakukan bila relevan secara epidemiologis (misalnya kejadian luar biasa Legionella), terdapat riwayat perjalanan baru-baru ini, dan pada dewasa dengan pneumonia komunitas berat. Uji antigen urin pneumokokus juga dapat dilakukan untuk mendukung deeskalasi ke antibiotik dengan spektrum lebih sempit. Uji serologis tambahan dapat dilakukan untuk patogen atipikal (misalnya Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia sp, Coxiella burnetii, virus influenza, adenovirus, RSV, Legionella pneumophila). Sampel serum tunggal yang diambil dalam 7 hari sejak onset gejala memiliki nilai yang terbatas.
Teknik Diagnostik Molekuler Cepat
Uji molekuler cepat (PCR [polymerase chain reaction], DNA microarray, massTagPCR, uji Binax Now S. pneumoniae) menghasilkan hasil lebih cepat, biasanya dalam 1–2 jam, dibanding diagnostik konvensional. PCR didasarkan pada deteksi DNA patogen pada sekret pernapasan, usap nasofaring, dan darah, dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi untuk S. pneumoniae dan L. pneumoniae. Metode ini memberikan hasil lebih cepat, dengan sensitivitas tinggi dan spesifisitas sedang–tinggi untuk M. pneumoniae namun dapat terdampak ketersediaan, biaya, dan isu teknis tertentu. Dapat digunakan sebagai panduan dalam eskalasi dan deeskalasi terapi antibiotik.
PCR adalah standar emas karena spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi, jendela waktu deteksi yang lebih panjang, dan hasil yang lebih cepat; oleh karena itu lebih disukai dibanding uji diagnostik cepat (misalnya uji antigen) untuk deteksi influenza. Pemeriksaan sekret pernapasan untuk influenza melalui uji molekuler cepat dapat dilakukan selama periode aktivitas penyakit tinggi pada pasien dengan faktor risiko (misalnya usia >60 tahun, hamil, asma atau dengan komorbiditas) dan pneumonia komunitas berisiko tinggi yang didahului gejala seperti influenza.
Silakan lihat bagan tata laksana penyakit Influenza untuk informasi lebih lanjut.
Pencitraan
Foto toraks bermanfaat untuk menentukan beratnya penyakit dan adanya komplikasi. Temuan khas adalah konsolidasi lobar dan dapat pula tampak infiltrat bilateral yang lebih difus. Pemeriksaan ini juga dapat mengindikasikan kemungkinan etiologi, mengungkap kondisi penyerta, dan membantu membedakan pneumonia dari kondisi lain yang gejalanya mirip.
